Keraton
Asal Usul
Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri pada tahun 1755 melalui Perjanjian Giyanti, yang membagi Kerajaan Mataram Islam menjadi dua: Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Hingga kini, kraton tetap menjadi pusat kebudayaan Jawa yang hidup dan dinamis.
Teritorial
Kraton Yogyakarta bukan hanya istana, melainkan pusat kosmologi Jawa yang mengatur tata ruang kota sepanjang sumbu imajiner Gunung Merapi – Kraton – Pantai Selatan.
Kompleks istana yang terdiri dari berbagai bangsal dan pendopo, termasuk Bangsal Kencana dan Bangsal Pagelaran.
Benteng kraton dan dua alun-alun (Lor & Kidul) sebagai ruang publik sakral dengan pohon beringin kembar.
Taman air kerajaan yang dibangun pada abad ke-18, berfungsi sebagai tempat peristirahatan dan pertahanan.
Tanah milik kasultanan yang tersebar di seluruh DIY, diatur dalam UU Keistimewaan untuk kepentingan rakyat.
Tradisi Sakral
Peringatan Maulid Nabi dengan arak-arakan gunungan dari kraton ke Masjid Gedhe.
Perayaan Idul Fitri dengan prosesi gunungan dan doa bersama.
Peringatan Idul Adha dengan pembagian gunungan kepada masyarakat.
Pekan raya tradisional selama satu minggu dengan pertunjukan gamelan Sekati.
Upacara sesaji ke Gunung Merapi, Pantai Parangkusumo, dan Gunung Lawu.
Peringatan hari penobatan Sultan yang berkuasa.
Pewaris Budaya
Sultan ke-10 yang memimpin kasultanan sejak 1989, sekaligus Gubernur DIY berdasarkan UU Keistimewaan.
Bertanggung jawab atas urusan rumah tangga dan adat istiadat kraton.
Para abdi dalem yang setia menjaga, merawat, dan menghidupkan tradisi kraton sehari-hari.
Para empu keris, dalang, penari, dan pengrawit yang melestarikan seni adiluhung Jawa.
Jejaring Budaya
Koleksi artefak Jawa terlengkap, termasuk wayang dan keris.
Menyimpan koleksi kerajaan, foto, dan pusaka kasultanan.
Menampilkan ragam motif batik klasik hingga kontemporer.
Komunitas para abdi dalem yang melestarikan tradisi istana.
Pelestari seni karawitan dan pertunjukan gamelan.
Pusat pelatihan tari Jawa klasik gaya Yogyakarta.
Batik tulis khas Yogyakarta dengan motif tradisional.
Warisan batik sejak 1951 di kawasan Tirtodipuran.
Desa pengrajin batik tulis di Bantul yang legendaris.